Catur Desa Adat Dalem TamblinganTamblingan.
  • Beranda
  • Wisata
id|en
Catur Desa Adat Dalem TamblinganTamblingan.

Adat Dalem Tamblingan (Desa Gobleg), Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, 81152

Ikuti KKN-PPM UGM Mekar Banjar

  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok

Didukung oleh

  • Joglo NyahPat
  • Kandang Ingkung
  • Navil Natural Organik
  • Nuanu Social Fund
Dikembangkan oleh Mekar Koding (Tim IT Mekar Banjar) · © 2026 Hak cipta dilindungi.
← Kembali
Sejarah

Ritual Karya Alilitan Adat Dalem Tamblingan

Dipublikasikan pada 30 Juli 2025 oleh Brasti

Ritual Karya Alilitan Adat Dalem Tamblingan

Dina Besik (Sasih Kasa) Jejepan (Pangelong) Nuju Kandengan (Beteng)

Karya Alilitan

Karya Alilitan adalah proses rangkaian ritual yang diselenggarakan oleh masyarakat Adat Dalem Tamblingan. Karya Alilitan dilaksanakan setiap dua tahun sekali, yang biasanya jatuh pada tahun ganjil. Karya Alilitan mempunyai tujuan utama, yaitu untuk membersihkan dan menyucikan alam beserta isinya dan senantiasa menjaga harmoni alam.

Pada purana disebutkan bahwa dulu karya alilitan dilakukan setiap tahun. Namun saat ini, Karya dilaksanakan setiap dua tahun sekali, karena proses Karya Alilitan memakan waktu selama 6 bulan khusus untuk dewa yadnya, dan memasuki sasih kanem, 4 bulan kemudian diikuti dengan rangkaian nangluk Merana. Pada waktu ini masyarakat ADT melakukan Upacara Penyanggra Nangluk Merana. Kemudian pada sasih kapitu dan kaulu dilaksanakan upacara pitra yadnya. Selanjutnya pada sasih kesanga dilakukan upacara Sesiep (Penyepian).

Berdasarkan hal tersebut diatas, karya alilitan, sulit dilakukan setiap tahun. Selain itu, berdasarkan purana yang ada diijinkan untuk menunda pelaksanaan Karya Alilitan selama satu tahun atau Ngarad. Biasanya waktu jeda ini dipakai untuk pemeliharaan fisik pada bangunan - bangunan pura yang ada di wilayah adat Dalem Tamblingan.

Rangkaian Upacara Karya Alilitan

Proses Karya Alilitan dilaksanakan manut pesasihan, dimulai pada kembanging sasih Kedasa (biasanya jatuh pada bulan April) sampai pada Kembang sasih Kelima (bulan November). Rangkaian Upacara Karya Alilitan adalah sebagai berikut:

Pengelukat Gumi

Sebelum melakukan rangkaian proses Lilitan Karya, masyarakat adat Dalem Tamblingan akan mengadakan ritual upacara Pengelukat Gumi. Pengelukat Gumi adalah ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat adat dalem Tamblingan yang bertujuan untuk menyucikan dan membersihkan alam beserta isinya dengan sarana air suci (tirta). Adapun proses dari upacara pengelukat gumi dimulai dari nunas panugrahan kepada penguasa bumi, setelah itu dilakukan upacara Pecaruan Manca Kelud. Ada 2 tingkatan upacara pengelukat gumi yang dilaksanakan oleh masyarakat adat dalem Tamblingan yaitu tingkatan madya dan utama.

Pengelukat Gumi

Upacara Pengelukat Gumi di Perapat Agung Desa Gobleg

Pada tingkatan madya, Pengelukat gumi dilaksanakan di Perapat Agung yang dihadiri oleh seluruh masyarakat adat Dalem Tambingan. Seusai ritual tirta pengelukat gumi akan di sebarkan ke seluruh pura utama yang ada di wilayah Adat Dalem Tamblingan oleh masing-masing pemangku pengempon pura dan seluruh palemahan di wewidangan ADT. Sehari setelah ritual pengelukat gumi, akan dilaksanakan sesiep (penyepian) di seluruh wewidangan ADT.

Pada tingkatan utama, ritual pengelukat gumi dilaksanakan di Perepat Agung yang dihadiri oleh seluruh masyarakat adat Dalem Tambingan. Seusai ritual di desa Gobleg, upacara dilanjutkan dengan Mececala (berjalan melintasi wewidangan Catur Desa). Hal ini bertujuan untuk ngemargiang (memercikkan) tirta ke seluruh wilayah Adat Dalem Tamblingan untuk menyucikan wilayah ADT pada khususnya, dan seluruh bumi pada umumnya. Sehari setelah ritual pengelukat gumi, akan dilaksanakan sesiep (penyepian) di seluruh wewidangan ADT.

Karya Dalu

Dina Besik (Sasih Kasa) Jejepan (Pangelong) Nuju Kandengan (Beteng)

Karya Dalu diselenggarakan pada jejepan (pangelong) sasih Kasa yang berpusat di Pura Pemulungan Agung. Dalu berarti pepetengan (kegelapan), dimana alam semesta beserta isinya berada dalam kegelapan atau kekotoran sehingga perlu dilaksanakan ritual upacara untuk membersihkan dan menyucikan bumi. Ritual pembersihan ini disimbolkan dengan upacara menyalakan api di jaba tengah pura Pemulungan Agung, sebagai simbol hilangnya kegelapan dan dibersihkannya kekotoran alam yaitu pada buana alit dan buana agung.

Ngandihang

Upacara Pengelukat Gumi di Jaba Tengah Pura Pemulungan Agung

Keesokan harinya dilaksanakan ritual melasti ke Luah Ingkup / Tukad Sridaka (Tukad Cangkup) dengan tujuan, pertama untuk menghanyutkan kekotoran dan nunas pemarisudha bumi. Tukad ini disebut tukad cangkup karena airnya merupakan gabungan dari 3 air yaitu yeh masem, toya ling, sudamanik. Campuran dari tiga mata air ini sifatnya pemarisudha, yang artinya melebur segala kekotoran dan mengharmonisasi buana agung dengan buana alit. Pada karya ini masyarakat subak ngaturang sarin taun berupa padi dan biji biji hasil bumi yang akan disimpan di Pura Pemulungan Agung.

Bongkol Karya

Kembanging Sasih Karo Nuju Kandengan

Bongkol Karya diselenggarakan pada Kembanging Sasih Karo yang berpusat di Pura Pemulungan Agung. Ritual Bongkol Karya dilaksanakan untuk membersihkan tujuh unsur di dasar bumi dengan tujuan untuk menguatkan dan membersihkan dasar bumi, kemudian ritual dilanjutkan dengan melaksanakan melasti ke Luah Alit (Tukad) Mendaum. Pada akhir upacara, nunas tirta Pengening-ening.

Melasti

Melasti ke Luah Alit Mendaum

Karya Alit Ngetiga (Pengerakih)

Kembangin Sasih Ketiga Dina Sudama / Menghindari Pelpelan (Pasah)

Setelah Bongkol Karya atau penguatan dan pembersihan bumi, barulah masing-masing masyarakat melaksanakan upacara pengerakih (karya alit) di pura raganta atau sanggah/merajan.

Karya Penyahjah

Kembangin Sasih Kapat Dina Sudama / Menghindari Pelpelan (Pasah)

Karya Penyahjah dilakukan di Luhuring Capah, Madyaning Capah dan Soring Capah. Upacara pengerakih di pura-pura yang ada di Luhuring Capah Adat Dalem Tamblingan yang dilaksanakan pada kembangin sasih Kapat. Ritual pembersihan dan penyucian dilanjutkan ke bagian hulu, yaitu di seputaran Hutan dan Danau Tamblingan. Ritual dimulai dengan melasti dari desa Gobleg menuju Danau Tamblingan yang kemudian menyebar untuk ngaturang pengerakih ke seluruh pura dengan tujuan untuk membersihkan parahyangan - parahyangan di luring capah.

Ritual di Danau

Ritual di Danau Tamblingan

Selain untuk penyucian kawasan, ritual ditujukan juga untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan, serta sebagai ucapan syukur atas kesuburan dan keberlimpahan air yang bersumber dari Danau Tamblingan dengan ritual ngaturang Pekelem. Agar masyarakat dapat melakukan persembahyangan, maka dipilihlah salah satu pura di luhuring capah sebagai pusat untuk melakukan karya. Tiga hari setelah selesai di Luhuring Capah, dilanjutkan dengan upacara Pengerakih di pura-pura yang ada di Madyaning Capah. Sedangkan pengerakih di Soring Capah dilaksanakan pada saat melasti ke Luah Agung (Segara) Labuan Aji.

Madyaning Karya

Jejepan Sasih Kapat Nuju Kandengan

Madyaning karya diselenggarakan pada jejepan sasih Kapat Nuju Kandengan, yang berpusat di pura Pemulungan Agung, dengan tujuan untuk memohon kesucian dan keseimbangan alam. Dari Pengelukat Gumi sampai Karya Penyahjah merupakan rangkaian proses pembersihan dan penyucian alam, maka pada Madyaning Karya dilakukan ritual ke segara untuk menetralisir segala kekotoran dari proses pembersihan tersebut, karena diyakini bahwa laut adalah penetralisir segala kekotoran. Sehingga dilaksanakan ritual Melasti ke Segara Agung Labuan Aji untuk memohon Pada Ida Betara Baruna agar segala kekotoran semesta ini dinetralisir.

Selain itu, tujuan utama dari ritual melasti ke Luah Agung (Segara) Labuan Aji adalah untuk melimpahkan Merta kepada panjak Ida Betara Pengulu yang ada di sepanjang perjalanan yang dilalui. Oleh karena itu, selama perjalanan melasti ngiringang Ida Betara Pengulu, deha teruna tekor mesuryak “suryak sari jelih lambih matan balang” sebagai simbolis menyebarkan kesejahteraan. Sebagai wujud syukur atas kelimpahan merta (kesejahteraan) yang diterima, masyarakat yang dilalui ngaturang penyanggra pada Ida Betara Pengulu berupa sesajen dan makanan minuman, kemudian boleh di tunas (dinikmati) oleh masyarakat yang melasti ngiringang Ida Betara. Dalam perjalanan menuju Segara Labuan aji, Ida Betara keiring mesandekan di Batugundul, desa Banjar. Setelah itu pemargi ida Betara dilanjutkan ke luah agung labuan Aji. Setibanya di Pantai Labuan Aji, Ida Betara keiring Mesandekan (istirahat sejenak). Setelah mesandekan ritual dilanjutkan dengan upacara mesucian ring pesiraman di Luah Agung, yang kemudian dilanjutkan ke pesimpangan Ida Betara Pengulu.

Luah Agung

Melasti Ke Luah Agung Labuan Aji

Selama 3 hari Ida betara Nyejer, masyarakat melakukan persembahyangan di pesimpangan Ida betara Pengulu yang berlokasi di pinggir pantai Labuan Aji, dan selama itu masyarakat subak yang airnya berasal dari Tamblingan akan menghaturkan persembahan pada Ida Betara Pengulu berupa Boga (Nasi Klatkat) yang bisa ditunas oleh masyarakat Panjak Pengulu selama berada di Labuan Aji. Desa-desa yang dilewati saat melasti ke Labuan Aji adalah Desa Kayu Putih, Tirtasari, Banyuseri, Banjar, Dencarik dan Temukus dengan jarak kurang lebih 20 kilometer. Setelah ritual di Labuan Aji, masyarakat kembali ke Hulu dengan melewati jalur yang berbeda yaitu melalui Desa Cempaga dan Desa Pedawa sepanjang sekitar 18 kilometer. Hal ini bertujuan agar kesejahteraan dapat tersebar ke semua wilayah secara merata.

Pucaking Karya (Ngayu Ayu)

Kembangin Sasih Kelima Nuju Kandengan

Karya Pangayu-ayu dilaksanakan pada kembangin sasih Kalima nuju kandengan, sebagai puncak Lilitan Karya yang bertujuan untuk ngenteg Linggih Jagat dan Ngenteg Linggih Kamertaan. Bahwa Kamertaan atau kesejahteraan harus dikukuhkan dan dikuatkan, agar bisa berkelanjutan. Sebelum Karya Pengayu Ayu, pada saat medal desa, Krama subak ngaturang Sarin Taun berupa Padi dan biji -biji hasil bumi. Sebagian dari sarin taun yang dihaturkan ini disimpan untuk karya yang akan datang. Dan sarin taun yang disimpan di lumbung Pura Pemulungan Agung pada karya sebelumnya ditedunkan untuk upacara dan setelah upacara Karya ditunas oleh masyarakat. Ritual Karya Pengayu Ayu diakhiri dengan upacara melasti ke Luah Alit Mendaum untuk menyucikan arca lekita Ida Betara.

Ida Betara

Upacara Penyucian Arca Lekita Ida Betara

Upacara melasti selalu menandai akhir dari lilitan karya, karena ritual yang dilakukan adalah Karya yang bisa diartikan sebagai bekerja. Bekerja untuk membersihkan alam dari segala kekotoran, bekerja untuk memperoleh kesejahteraan. Maka dari itu, karya selalu diakhiri dengan nyiramang atau menyucikan due arca lekita Ida Betara sebagai sarana prasarana yang dipakai selama ritual.