Permainan Tradisional
Dipublikasikan pada oleh KKN Mekar Banjar

Permainan yang Melatih Motorik Anak
Masyarakat Adat Dalem Tamblingan pernah mengenal dan memainkan beberapa permainan tradisional yang membutuhkan keterampilan dan melatih motorik anak. Sayangnya saat ini sudah tidak lagi dimainkan, tergantikan oleh permainan dalam ponsel atau gawai lainnya.
Permainan ini membutuhkan biji kemiri, dimainkan oleh sedikitnya tiga orang pemain. Setiap pemain membutuhkan dua biji kemiri, salah satu biji kemiri dari setiap pemain dijejer di atas semprong (potongan bambu pendek untuk meniup api di dapur kayu) yang direbahkan di tanah. Biji kemiri lainnya akan digunakan untuk melempar biji kemiri yang dijejer di atas semprong. Permainan dimulai dengan menentukan pelempar pertama. Masing-masing peserta melempar biji kemirinya dari titik jejeran kemiri sejauh mungkin. Pemain dengan lemparan terjauh akan mendapat kesempatan melempar paling awal. Jika lemparan berhasil mengenai sasaran, maka pelempar bisa memiliki kemiri yang jatuh dari atas semprong. Jika tidak ada yang mengenai sasaran, permainan bisa diulang kembali dengan cara yang sama. Pada putaran kedua, salah satu pemain boleh tidak ikut melempar kemirinya, memilih nengge, menunggu saja pemain yang lain menyelesaikan lemparan. Jika tidak ada satu pun pemain yang dapat mengenai sasaran atau masih ada sisa kemiri, maka secara langsung kemiri yang tersisa akan menjadi milik pemain yang nengge.
Permainan menggunakan biji kemiri, dengan jumlah pemain dua orang atau lebih. Setiap pemain melempar biji kemiri ke tembok yang memiliki lantai datar, sehingga biji kemiri akan memantul dari tembok ke arah lantai. Pemain yang pantulannya paling jauh akan mendapat giliran pertama. Pemain dengan pantulan jarak terjauh mendapatkan kesempatan untuk melempar kemiri lawan yang berada paling dekat dengan kemirinya sendiri. Jika mengenai kemiri lawan, maka kemiri akan dimiliki oleh pemain tersebut. Jika lemparan tidak mengenai sasaran, maka akan dilanjutkan oleh peserta yang memiliki jarak pantulan terjauh selanjutnya. Demikian seterusnya sampai kemiri pemain habis dalam satu kali permainan.
- Memasang di kelod (selatan)
- Memasang di kauh (barat)
- Memasang di kaja (utara)
- Memasang di kangin (timur)
Dimainkan oleh dua orang atau lebih, menggunakan batu agak pipih selebar telapak tangan. Setiap peserta harus memiliki dua buah batu dalam sekali permainan. Satu batu digunakan sebagai embung atau batu yang dijadikan taruhan dan satu batu lagi digunakan untuk melempar. Embung dipasang berjejer oleh semua pemain di atas garis lurus di atas tanah. Jika pemainnya lima orang, maka akan ada lima embung yang berjejer. Hampir sama dengan megemblong. Setiap pemain akan melempar batu dari jejeran embung sejauh mungkin dengan tangan. Pelempar dengan jarak terjauh akan mendapatkan kesempatan pertama untuk melempar ke arah jejeran embung. Jika batunya tidak mengenai sasaran, dilanjutkan oleh pemain berikutnya. Namun jika berhasil membuat embung keluar dari garis jejeran, maka embung yang terlempar menjadi milik pelempar batu. Batu taruhan atau embung harus bergeser ke arah belakang garis jejeran. Jika batunya ke depan garis jejeran maka lemparan tersebut dianggap gagal dan embung tidak bisa dimiliki oleh pelempar batu. Permainan dilanjutkan dengan lemparan gotrekan, menggunakan batu yang diletakkan di atas jari kaki. Pemain harus melemparkan batu ke arah embung sampai bisa mengenai sasaran. Jika tidak mengenai sasaran, dilanjutkan dengan cara yang sama oleh pemain lainnya hingga embung habis.
Daun paku (pakis) merupakan salah satu alat permainan anak-anak. Paku jenis tertentu memiliki serbuk berwarna putih di bagian belakang daunnya, dan paku ini tidak dapat dimakan. Serbuk tersebut adalah kumpulan spora yang merupakan alat reproduksi paku. Petik daun paku yang mengandung serbuk putih, kemudian tempelkan bagian belakang daun yang mengandung spora di tangan atau bagian tubuh lainnya selama beberapa detik. Serbuk putih akan menempel di kulit, menyerupai tato berbentuk daun paku.
Permainan gangsing merupakan salah satu warisan budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Catur Desa atau Adat Dalem Tamblingan, yang meliputi Desa Munduk, Gesing, Gobleg, dan Umajero. Berbeda dengan pertunjukan, permainan ini mengandung unsur kompetisi yang mengandalkan keterampilan, kekuatan, dan keseimbangan ketika gangsing berputar pada porosnya. Permainan gangsing dimainkan secara serius sebagai bentuk pertandingan tradisional yang sarat makna kebersamaan dan identitas budaya lokal.
Meskipun permainan gangsing telah dikenal dan diwariskan secara turun-temurun sejak dahulu, hingga kini belum diketahui secara pasti kapan permainan ini pertama kali dimainkan. Menurut Putu Ardana, secara geografis, permainan gangsing berasal dari para petani kopi di lereng barat daya Gunung Batukaru. Mereka memainkan gangsing di tanah lapang sebagai pengisi waktu senggang setelah masa panen kopi yang berlangsung sekitar Mei hingga Agustus.
Permainan gangsing di Catur Desa berkembang cukup dinamis, terutama dari segi ukuran, bentuk, dan teknologi pembuatan. Pada tahun 1950-an, bentuk gangsing menyerupai jambu biji dengan diameter sekitar 12–20 cm. Memasuki tahun 1970-an, yang dikenal sebagai era gangsing bebas, ukuran gangsing berkembang sangat besar hingga mencapai diameter 40 cm. Mulai pertengahan tahun 1990-an, masyarakat Catur Desa mulai melakukan standarisasi terhadap ukuran gangsing dengan diameter 21 cm. Selain itu, seiring waktu, bentuk gangsing juga semakin pipih.
Teknologi pembuatan gangsing juga unik. Bahan yang digunakan umumnya adalah batang kayu keras dan berserat halus, seperti kayu jeruk, sawo, limau, kelengkeng, dan kemuning. Pemilihan jenis kayu ini sangat penting karena berpengaruh pada daya tahan dan putaran gangsing saat dimainkan.
Dalam permainan gangsing, aturan main tetap dijaga dengan baik meskipun mengalami beberapa penyesuaian seiring waktu. Dahulu, gangsing diolesi minyak atau yang disebut lengisan agar dapat berputar lebih lama. Namun, sejak akhir tahun 1990-an, penggunaan minyak tersebut dilarang karena dianggap mengganggu kenyamanan penonton saat pertandingan berlangsung.
Permainan ini biasanya dimainkan oleh laki-laki dari berbagai kelompok usia, yang tergabung dalam satu tim yang dikenal sebagai seke. Setiap seke umumnya beranggotakan sekitar 10 orang dan membawa sekitar 25 gangsing. Proses regenerasi pemain berlangsung secara alami, karena tim sering terdiri atas ayah dan anak, sehingga tradisi ini dapat terus dilanjutkan dan diwariskan lintas generasi.
Pelestarian permainan ini menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah munculnya pemain yang memodifikasi gangsing dengan menambah beban agar tidak sesuai aturan. Selain itu, jumlah pengrajin pembuat gangsing juga sedikit. Meskipun demikian, masyarakat Catur Desa tetap konsisten menjaga permainan ini sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang terus hidup dan berkembang hingga kini.