Telusur Tanaman Obat Alas Mertajati
Dipublikasikan pada oleh KKN Mekar Banjar

Di kawasan pegunungan Bali Utara yang sejuk dan lembap, terdapat hutan alami bernama Alas Mertajati yang kaya akan keanekaragaman hayati. Terletak di wilayah Catur Desa — yaitu Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umejero — kawasan ini dikenal sebagai daerah yang masih menjaga kearifan lokal serta kelestarian lingkungan. Alas Mertajati menjadi habitat berbagai jenis flora liar yang tumbuh secara alami di bawah kanopi hutan, termasuk banyak tanaman obat yang memiliki potensi sebagai sumber bahan alami untuk pengobatan dan kesehatan. Keberagaman tanaman tersebut menjadi salah satu kekayaan alam yang patut diperhatikan dalam upaya pelestarian sumber daya hayati.

Sumber: Dokumentasi Penulis
Daun Lateng atau Jelatang (Urtica dioica) merupakan tumbuhan liar yang dikenal luas sebagai "daun gatal" karena bulu halus pada permukaannya dapat menimbulkan rasa gatal, kemerahan, dan sensasi seperti tersengat saat bersentuhan dengan kulit. Tanaman ini sering ditemukan di daerah lembap seperti kawasan Alas Mertajati. Meski dihindari karena efek iritasinya, daun lateng sebenarnya menyimpan berbagai manfaat kesehatan berkat kandungan senyawa aktifnya seperti polisakarida, vitamin C, karoten, flavonoid, serta sifat antibakteri dan antijamur.
Dalam pengobatan tradisional, daun jelatang biasanya diolah terlebih dahulu—dilayukan dengan pemanasan atau direbus—untuk menghilangkan efek gatal sebelum digunakan. Daun yang sudah diolah ini sering ditempelkan pada area pegal, nyeri otot, atau gejala masuk angin karena dipercaya memberikan efek hangat dan melancarkan peredaran darah. Selain itu, ekstraknya dapat dijadikan krim topikal untuk mengatasi masalah kulit seperti eksim, bisul, atau peradangan, serta dikonsumsi sebagai teh herbal yang bermanfaat sebagai antiinflamasi, penstabil gula darah, dan sumber antioksidan.

Sumber: google
Ceplokan (Physalis angulata L.) adalah tanaman herbal liar yang berasal dari Amerika namun kini tersebar luas di daerah tropis. Tanaman ini mudah dikenali dari buah kecilnya yang terbungkus kelopak tipis menyerupai lentera, berwarna hijau saat muda dan kuning-oranye saat matang. Secara fisik, ciplukan memiliki batang bersegi tajam dan berongga dengan cabang menggarpu, daun berbentuk bulat telur hingga lanset yang tepinya bergerigi, serta akar tunggang dan serabut berwarna putih. Tanaman ini tumbuh liar di lahan terbuka, semak belukar, pinggiran hutan, dan dapat ditemukan dari dataran rendah hingga ketinggian 1.500 mdpl.
Ceplokan telah menarik perhatian peneliti karena kandungan senyawa aktifnya seperti withanolida, flavonoid, dan antioksidan yang memberikan berbagai manfaat kesehatan. Tanaman ini diketahui memiliki sifat antidiabetik, antiinflamasi, antihipertensi, bahkan potensi sebagai antikanker. Buah matangnya bisa dikonsumsi langsung sebagai camilan sehat, sementara daun dan akarnya sering direbus untuk diambil airnya guna membantu menurunkan gula darah, meredakan peradangan, atau mengatasi demam. Meski terlihat sederhana, ciplukan menyimpan potensi besar sebagai bahan fitofarmaka di masa depan, meski penggunaannya tetap harus memperhatikan takaran yang tepat.

Sumber: google
Lempuyak (Lantana camara), juga dikenal sebagai tembelekan atau bunga pagar, adalah tanaman semak tahunan dari famili Verbenaceae yang berasal dari Amerika Tropis. Tanaman ini tumbuh setinggi 0,5–4 meter, dengan batang berkayu (kadang berduri) dan daun tunggal berbentuk bulat telur bertepi bergerigi serta permukaan kasar. Lempuyak mudah dikenali dari bunga kecilnya yang berwarna cerah (merah, kuning, oranye) dan beraroma harum tajam. Buahnya bulat kecil, berwarna hitam mengilap saat matang. Tanaman ini tumbuh liar di dataran rendah hingga ketinggian 1.700 mdpl, sering ditemukan di ladang, sempadan jalan, atau hutan, karena sangat adaptif dan tahan kekeringan.
Meski dianggap gulma, lempuyak memiliki manfaat farmakologis. Daunnya mengandung senyawa lantadene A dan B yang bersifat antibakteri, antiinflamasi, dan insektisida alami. Dalam pengobatan tradisional, daun yang ditumbuk digunakan sebagai obat luar untuk gatal-gatal, luka bernanah, dan infeksi kulit ringan. Namun, tanaman ini juga beracun jika dikonsumsi berlebihan, terutama buah dan daunnya. Oleh karena itu, pemanfaatannya sebaiknya hanya untuk penggunaan luar dengan tetap memperhatikan kehati-hatian.
Selain ketiga tanaman di atas, masyarakat sekitar Alas Mertajati juga mengenal sejumlah tumbuhan lain yang memiliki fungsi pengobatan, yaitu:
- Pamor, digunakan bersama daun sirih untuk kegiatan menginang, juga memiliki sifat antiseptik dan pelindung rongga mulut.
- Base-base, tanaman yang menyerupai sirih dan bermanfaat untuk mengatasi infeksi saluran pernapasan atau mulut.
- Dengencel, digunakan secara lokal sebagai obat merah untuk luka luar.
- Ke yehyeh, dimanfaatkan untuk meredakan panas dalam dan sariawan.
- Kangkang yuyu, tanaman lokal yang dapat digunakan secara tradisional untuk mengobati sakit telinga.
Alas Mertajati bukan sekadar hutan, tetapi sebuah ruang hidup dan pengetahuan yang menyatu dengan kehidupan masyarakat adat di sekitarnya. Tanaman-tanaman liar yang tumbuh di dalamnya menyimpan kekayaan potensi farmakologi yang belum seluruhnya dieksplorasi secara ilmiah. Melindungi kawasan ini berarti turut menjaga warisan hayati dan kearifan lokal yang berharga, yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat dan pengembangan obat berbasis alam di masa depan.