Catur Desa Adat Dalem TamblinganTamblingan.
  • Beranda
  • Wisata
id|en
Catur Desa Adat Dalem TamblinganTamblingan.

Adat Dalem Tamblingan (Desa Gobleg), Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, 81152

Ikuti KKN-PPM UGM Mekar Banjar

  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok

Didukung oleh

  • Joglo NyahPat
  • Kandang Ingkung
  • Navil Natural Organik
  • Nuanu Social Fund
Dikembangkan oleh Mekar Koding (Tim IT Mekar Banjar) · © 2026 Hak cipta dilindungi.

Adat Dalem Tamblingan

Catur Desa di sekitar Danau Tamblingan, Buleleng

Gobleg · Munduk · Gesing · Umejero

Masyarakat Adat Dalem Tamblingan adalah komunitas tradisional yang mendiami wilayah Catur Desa — Gobleg, Munduk, Gesing, dan Umejero — di sekitar Danau Tamblingan, Kabupaten Buleleng, Bali. Mereka memiliki akar sejarah dari peradaban kuno Tamblingan dan dikenal teguh memegang Piagem Gama Tirta, sistem nilai leluhur yang menekankan pentingnya air suci (tirta) sebagai sumber kehidupan dan keseimbangan semesta.

Danau Tamblingan dipandang sebagai kawasan suci yang dijaga melalui sistem alas kekeran (hutan larangan), mencerminkan harmoni antara manusia dan alam. Kehidupan masyarakat diatur oleh lembaga adat dan tokoh spiritual yang melestarikan tradisi serta menjalankan ritual di pura-pura peninggalan leluhur.

Cerita dari Tamblingan

Ketika alam, leluhur, dan manusia bersatu

The Legend of Tamblingan

Sebuah kisah tentang persatuan alam, leluhur, dan manusia.

Peta wilayah Adat Dalem Tamblingan di Bali
Wilayah Adat Dalem Tamblingan di Kabupaten Buleleng, Bali

Empat desa, satu ikatan sakral

Gobleg, Munduk, Gesing, dan Umejero membentuk Catur Desa — kesatuan wilayah adat yang menjaga keseimbangan alam dan spiritualitas Tamblingan. Meski secara administrasi pemerintahan masing-masing desa berdiri sendiri, dalam konteks adat keempatnya tetap terikat sebagai satu kawasan Adat Dalem Tamblingan.

Menjaga air, hutan, dan warisan leluhur

Inti kehidupan Adat Dalem Tamblingan terletak pada pemuliaan air dan penjagaan Alas Mertajati, hutan keramat yang membentang di kawasan danau. Melalui lembaga adat, ritual, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun, masyarakat terus merawat danau, hutan, dan tempat suci agar tetap menjadi sumber kehidupan sekaligus pusat spiritual bagi generasi berikutnya.