Sistem Pemerintahan Adat Dalem Tamblingan
Published on by KKN Mekar Banjar
This article is available in Indonesian only.

Struktur Organisasi Dresta Kuna Adat Dalem Tamblingan
- Ngurah Mancawarna (Pengerajeg)
- Ngurah Pengenter
- Ngurah Pasek
- Ngurah Mangku Agung
- Ngurah Pengengeng
- Ngurah Kubayan
- Ngurah Nyarita
Peran dan Kedudukan Pengerajeg
Pengerajeg adalah Sang Pemimpin, baik dalam hal sekala maupun niskala. Dikisahkan, pada suatu ketika Ida Dalem ngastawa (memuja) di Karang Kedas (saat ini menjadi Pura Batur). Ketika bermeditasi, terlihatlah kukus (asap) di arah kaja-kangin (timur laut) dan kelod-kangin (tenggara). Pada kedua kukus tersebut ditemukan bembengan/kandengan (mata air). Mata air tersebut difungsikan sebagai tirta pradana urip dan tirta pradana pati, air suci untuk muput saluiring seraja karya (panca yadnya), pengentas semua rangkaian kegiatan upacara baik niskala maupun sekala. Pada bembengan/kandengan arah kaja-kangin kemudian didirikan Pura Siwa Muka Bulakan dan arah kelod-kangin didirikan Pura Siwa Muka Suwukan.
Pada tahun 1800-an, krama Adat Dalem Tamblingan pernah dipimpin oleh seorang pengerajeg perempuan, bernama Gusti Ayu Rai. Beliau merupakan tokoh yang ngajegan adat. Ketika itu Sang Suami sudah meninggal dan keturunannya masih kecil-kecil. Sebagai pemimpin perempuan pertama, Gusti Ayu Rai dikenal sebagai panglingsir Adat Dalem Tamblingan yang berkharisma luar biasa. Beliau memimpin hingga Lingsir (tua), bahkan jika ke pura harus di-tegen (ditandu).
Fungsi dan Kewenangan Ngurah Mancawarna
- Ida Siwa tatkala nuhur tirta (menyucikan air)
- Penyiratan / Balian Guru Sakti tatkala melaksanakan upacara
- Ngurah Penyarikan tatkala muput yadnya (mengentaskan upacara)
- Bhagawan Gama tatkala melaksanakan upacara penglukat gumi
- Ngurah Bendesa Dalem Tamblingan tatkala nabdab krama (memimpin masyarakat)
Peran Krama Adat dalam Upacara
- Balian Guru Sakti adalah Ngurah Mancawarna
- Balian Tiga sakti dari turunan Pengenter
- Balian Sanding dari turunan Pasek Wancing
- Balian Sasa dari turunan Barak Tegeh Kori
- Balian Susul
- Permas
- Pengenter dibantu oleh Petinggi dalam pelaksanaan upacara yang terkait dengan bebantenan
- Pengengeng bertanggung jawab sebagai juru rawos upacara
- Kubayan bertanggung jawab pada keamanan duwe, bersama dengan Deha Teruna Tekor
- Ngurah Nyarita sebagai pelaksana seni (tari dan tabuh/Seka Keklentingan)
- Kelian Subak se-Catur Desa
- Kelian Banjar Adat se-Catur Desa
- Perbekel se-Catur Desa
- Menega (Jaga Teleng dan Jaga Wana)
Juga, seluruh masyarakat Adat Dalem Tamblingan wajib ngayah di pura pada saat upacara sesuai dengan fungsinya.
Tata Kelola Banten dalam Upacara
Dalam tatanan upacara, masyarakat dan banjar adat berperan besar dalam pengadaan banten (kekenaan banten). Pengenter bertugas menyusun seluruh rangkaian dan proses karya/upacara, dan nantinya secara detil banten diorganisir oleh setiap banjar adat untuk diserahkan ke setiap dadya (keluarga). Banten yang dibuat oleh setiap dadya atau keluarga langsung diserahkan ke pura, diterima dan diatur oleh petinggi Lanang-istri dengan pimpinan pengenter. Banten kemudian akan dihaturkan oleh Pelaksana Upacara. Pengetahuan tentang banten mulai dipraktikkan ketika deha teruna tekor, ikut berpartisipasi secara langsung ketika upacara dan persiapannya. Praktik langsung, ditambah dengan cerita-cerita dari penglingsir lebih memudahkan generasi penerus memahami. Ada juga banten yang sudah ditulis oleh penglingsir yang dulu rajin menuliskan dari banten yang ada.
Peran Khusus Menega
Sementara itu, menega mempunyai tugas khusus menjaga hutan (jaga wana) dan menjaga danau (jaga teleng), terdiri dari orang-orang yang ditentukan berdasarkan keturunan dan tetap melaksanakan tugasnya hingga saat ini.